Gas Elpiji 3 Kg di Tebo Langka dan Mahal, Warga Nilai Disperindag Gagal Awasi Distribusi
Kondisi ini memicu kekecewaan dan kemarahan warga. Masyarakat secara terbuka mempertanyakan kinerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tebo yang dinilai gagal melakukan pengawasan terhadap distribusi gas elpiji 3 kg.
Aak, warga Kecamatan Tebo Tengah, mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan satu tabung gas saja, warga harus antre dan mendaftar, dengan harga yang jauh di atas ketentuan pemerintah.
“Kemarin saya mau beli gas di pangkalan Simpang Lima Tebo, harganya Rp25 ribu per tabung. Itu pun harus daftar dulu, belum tentu langsung dapat. Ini gas subsidi, tapi rasanya seperti barang mewah,” kata Aak, Selasa (3/2/2026).
Ia menegaskan, situasi ini menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah daerah. Menurutnya, jika pengawasan berjalan, tidak seharusnya gas subsidi langka dan dijual semaunya oleh pangkalan.
“Kalau Disperindag bekerja maksimal, tidak mungkin begini terus. Ini sudah lebih dari sepekan, tapi tidak ada solusi nyata,” tegasnya.
Keluhan senada juga disampaikan Ahmad. Ia menyebutkan bahwa pekan lalu Disperindag Tebo sempat memanggil agen dan pemilik pangkalan, namun langkah tersebut dinilai hanya sebatas formalitas tanpa dampak nyata di lapangan.
“Mereka bilang HET Rp19 ribu sampai Rp20 ribu. Tapi kenyataannya, gas tetap langka dan kalau ada, harganya tetap di atas itu. Kalau cuma rapat dan pencitraan, rakyat tetap yang jadi korban,” ujar Ahmad.
Warga menilai, kondisi ini mencerminkan kegagalan pemerintah daerah dalam melindungi hak masyarakat kecil atas barang bersubsidi. Mereka mendesak Pemkab Tebo dan Disperindag untuk tidak hanya menggelar rapat, tetapi turun langsung ke lapangan, menindak tegas agen dan pangkalan nakal, serta membuka secara transparan jalur distribusi gas elpiji 3 kg.
“Jangan cuma janji. Gas subsidi ini untuk rakyat kecil, bukan untuk dipermainkan. Kalau dibiarkan, ini sama saja membiarkan rakyat terus diperas,” tutup Ahmad.***

Posting Komentar